Hal ini banyak saya temukan khususnya di daerah Jakarta barat yang notabenenya daerah yang sudah banyak angkutan umumnya, tepatnya di terminal Kalideres. Tak heran adanya angkot ber-plat hitam ini banyak menuai protes dari kalangan sopir-sopir angkutan umum lain (resmi), terutama angkot ber-plat kuning. Mereka pun kerap melakukan demo agar angkot ber-plat hitam itu ditiadakan. Sesekali memang ada aparat keamanan yang melakukan pemeriksaan dan merazia angkot plat hitam yang lewat dan hasilnya memang angkot-angkot tersebut berkurang bahkan tak terlihat, meskipun ada beberapa yang masih nekat. Namun hanya selang beberapa hari setelah demonya mereda, angkot-angkot ber-plat hitam ini mulai beroperasi lagi dan makin hari malah makin banyak, seakan-akan tidak peduli dan tidak terima adanya larangan beroperasi tersebut. Tentu ini membuat aparat keamanan menjadi kewalahan untuk mengurangi angkutan umum ilegal tersebut.
Namun jika dilihat dari segi kemanusiaan, memang para sopir-sopir angkutan ber-plat hitam ini hanya ingin mencari uang untuk menafkahi keluarganya, lagipula pada kenyataannya angkot ber-plat hitam ini cukup digandrungi oleh masyarakat. Disamping mobilnya yang lebih besar jadi tempat duduknya cukup lega, warna mobilnya pun bermacam-macam yang kebanyakan berwarna gelap, seperti biru tua, merah tua, abu-abu dan hitam. Tentu saja, kalau warnanya mentereng bakal lebih menarik perhatian yang membahayakan. Apalagi, dapat diakui tarifnya pun lebih murah dibandingkan angkot yang resmi, dengan rute yang jauh yaitu Pesing – Cengkareng – Kalideres – Tangerang hanya dipatok Rp.3000/ orang, itupun setelah kenaikan BBM. Maka bagi penumpang tujuan Pesing – Tangerang tak perlu lagi menyambung angkot dua kali. Bahkan tadinya angkot-angkot tersebut sebenarnya beroperasi sampai ke kota, namun sekarang sepertinya tidak diperbolehkan lagi karena bermasalah dengan angkot ber-plat kuning. Kelebihan lain, angkot plat hitam ini cenderung tidak terlalu lama menunggui penumpang, alias nge-tem yang merupakan kebiasaan dari angkutan-angkutan umum di Jakarta, karena mereka harus mengalah pada angkot-angkot resmi yang lain.
Tetapi disisi lain, dari segi keamanannya angkot plat hitam ini kurang baik untuk dinaiki, karena bisa-bisa penumpang ikut kena demo ditengah jalan dan penumpang sendiri yang dirugikan. Pernah sesekali, tiba-tiba angkot diberhentikan dan para penumpang dipaksa turun oleh sekelompok orang, tepatnya lebih mirip sekelompok preman. Akhirnya para penumpang mau tidak mau turun dengan tetap membayar ongkos, meskipun belum sampai tempat tujuannya. Memang hal tersebut tidak selalu terjadi, tetapi yang namanya kesialan siapa yang tahu. Maka dari itu, ada banyak juga penumpang yang lebih memilih atau beralih kembali ke angkot yang resmi, karena lebih aman dan di jamin sampai ketempat tujuan.
Bagaimanapun menurut saya, angkutan-angkutan umum ber-plat hitam ini perlu ditanggapi dengan serius oleh pemerintah dan aparat kepolisian setempat seharusnya lebih tegas lagi. Karena jika tidak, ini hanya akan menambah jumlah kendaraan yang memperparah kemacetan dan ketidakteraturan lalu lintas di kota Jakarta, belum lagi dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat setempat.(Veny)
Inilah beberapa gambar angkot ber-plat hitam yang saya ambil disekitar jalan Daan Mogot.







2 komentar:
Angkot hitam itu sebenarnya juga merupakan cara orang yang mencari penghasilan tapi dengan cara yang salah..huh..andai pemerintah lebih perhatian terutama DLLAJR, pasti akan lain ceritany..nice information..heheh..
Pliz comment our blog:
http://time2go-blog.blogspot.com/
angkot dimana-mana... bikin macet, krn gak diatur dengan benar. jumlah angkot yang over kuota juga yang membuat jalan tambah sesak :-p
Posting Komentar